USD/IDR: Rupiah Masih Tertekan di Rp17.403, Pasar Mengukur Respons BI, Risiko Hormuz, dan Data Tenaga Kerja AS

  • Rupiah melemah 0,21% ke Rp17.403 per Dolar AS pada akhir sesi Asia Rabu, masih dekat area terlemah terbaru.
  • BI memperketat aturan pembelian valas dan menegaskan intervensi tetap dilakukan di pasar domestik maupun offshore.
  • Pasar menunggu data ADP AS malam ini, sementara ketegangan AS-Iran masih menjaga risiko harga minyak dan tekanan eksternal.

Rupiah Masih Dekat Area Terlemah

Rupiah masih bergerak rapuh pada akhir sesi Asia Rabu. Mengacu data real-time, mata uang Garuda melemah 36 poin atau 0,21% ke Rp17.403 per Dolar AS, setelah bergerak dalam rentang harian Rp17.365-Rp17.415.

Posisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap Rupiah belum banyak mereda. Meski masih sedikit lebih kuat dibanding area terlemah terbaru di sekitar Rp17.445-Rp17.447 per Dolar AS, ruang pemulihan tetap terbatas. Dalam jangka lebih panjang, Rupiah juga masih terdepresiasi sekitar 5,67% dalam satu tahun dan 21,43% dalam lima tahun terakhir terhadap Dolar AS.

Tekanan juga tercermin pada kurs acuan Bank Indonesia. JISDOR pada 5 Mei 2026 tercatat di Rp17.425 per Dolar AS, melemah dari Rp17.368 pada 4 Mei 2026. Kenaikan kurs acuan ini memperkuat gambaran bahwa tekanan terhadap Rupiah tidak hanya terlihat di pasar spot, tetapi juga mulai tercermin pada referensi resmi BI.

BI Perketat Pembelian Valas

Dari sisi kebijakan, pasar mencermati langkah Bank Indonesia yang kembali memperketat pembelian Dolar AS di pasar domestik. BI berencana menurunkan ambang batas pembelian valas yang wajib disertai dokumen underlying menjadi US$25.000 per bulan, dari sebelumnya US$50.000.

Langkah ini diambil setelah Rupiah sempat menyentuh area rekor lemah di sekitar Rp17.445 per Dolar AS. Gubernur BI Perry Warjiyo menilai Rupiah sudah undervalued secara fundamental dan menegaskan bank sentral akan tetap melakukan intervensi di pasar valas domestik maupun offshore untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Pemerintah Siapkan Diversifikasi Pembiayaan

Upaya menjaga stabilitas Rupiah juga datang dari sisi fiskal. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah menyiapkan penerbitan Panda bonds di Tiongkok dengan bunga yang lebih kompetitif.

Strategi ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS sekaligus memperkuat koordinasi fiskal-moneter. Bagi pasar, langkah tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas Rupiah, kebutuhan pembiayaan, dan momentum pertumbuhan ekonomi.

Risiko Hormuz Masih Menekan Sentimen

Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran belum sepenuhnya mereda meski Washington mulai memberi ruang bagi jalur diplomasi. Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi Project Freedom untuk membuka kembali akses Selat Hormuz akan dijeda sementara guna memberi peluang penyelesaian kesepakatan dengan Iran.

Namun, tekanan AS belum dilepas karena blokade terhadap Iran masih berlaku. Pada saat yang sama, Iran justru memperketat kendali pelayaran di Hormuz melalui mekanisme transit baru dan meminta kapal komersial berkoordinasi dengan otoritas militernya.

Bagi Rupiah, kondisi ini tetap kurang bersahabat. Risiko gangguan pasokan energi masih tinggi, sehingga pasar terus menakar dampaknya terhadap harga minyak, kebutuhan Dolar AS untuk impor energi, inflasi impor, dan potensi beban fiskal dari subsidi.

Data AS Campuran, Tekanan Harga Masih Tinggi

Dari AS, data ekonomi semalam memberi sinyal campuran. PMI Gabungan S&P Global April turun ke 51,7 dari 52, sedikit di bawah konsensus 52. PMI Jasa ISM juga melemah ke 53,6 dari 54, tipis di bawah ekspektasi 53,7.

Perincian ISM memperlihatkan tekanan pada aktivitas jasa. Indeks ketenagakerjaan turun ke 42,7 dari 45,2, sementara pesanan baru melandai ke 53,5 dari 60,6. Namun, tekanan harga masih menjadi perhatian karena indeks harga jasa dibayar ISM bertahan tinggi di 70,7.

Sementara itu, lowongan kerja JOLTS Maret turun ke 6,866 juta dari 6,922 juta, tetapi masih sedikit di atas konsensus 6,83 juta. Penjualan rumah baru juga tetap tumbuh, meski melambat ke 7,4% MoM pada Maret dari 8,9% pada Februari.

Pasar Menunggu ADP AS

Fokus berikutnya tertuju pada Perubahan Ketenagakerjaan ADP April yang akan dirilis malam ini. Data ini diprakirakan naik menjadi 99 ribu dari 62 ribu sebelumnya dan menjadi petunjuk awal sebelum rilis Nonfarm Payrolls pada Jumat.

Jika ADP lebih kuat dari prakiraan, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed berpotensi bertahan lebih lama. Kondisi tersebut dapat kembali menopang Dolar AS dan menjaga tekanan terhadap Rupiah. Sebaliknya, angka yang lebih lemah dapat sedikit membuka ruang pemulihan bagi mata uang Garuda, terutama jika pasar mulai menilai ekonomi AS kehilangan momentum.

Indikator Ekonomi

Perubahan Ketenagakerjaan ADP

Perubahan Ketenagakerjaan ADP merupakan pengukur ketenagakerjaan di sektor swasta yang dirilis oleh pemroses payrolls terbesar di AS, Automatic Data Processing Inc. Alat ini mengukur perubahan jumlah orang yang bekerja secara swasta di AS. Secara umum, kenaikan indikator ini memiliki implikasi positif bagi belanja konsumen dan merupakan stimulator pertumbuhan ekonomi. Jadi, pembacaan yang tinggi secara tradisional dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sementara pembacaan yang rendah dianggap bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Mei 06, 2026 12.15

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 99Rb

Sebelumnya: 62Rb

Sumber: ADP Research Institute

Pedagang sering mempertimbangkan data ketenagakerjaan dari ADP, penyedia payrolls terbesar di Amerika ini, melaporkan sebagai pertanda dari rilis Biro Statistik Tenaga Kerja tentang Nonfarm Payrolls (biasanya diterbitkan dua hari kemudian), karena korelasi antara keduanya. Terjadinya tumpang tindih kedua seri tersebut cukup tinggi, tetapi pada bulan-bulan tertentu, perbedaannya bisa sangat besar. Alasan lain pedagang Valas mengikuti laporan ini sama dengan NFP – pertumbuhan angka ketenagakerjaan yang kuat dan terus-menerus meningkatkan tekanan inflasi, dan bersamaan dengan itu, kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga. Angka aktual yang mengalahkan konsensus cenderung membuat USD bullish.

USD/CHF Turun ke Dekat 0,7800 karena Dolar AS Mengalami Kesulitan di Tengah Sentimen Risk-On

USD/CHF melemah selama dua hari berturut-turut, diperdagangkan di sekitar 0,7800 selama jam perdagangan sesi Asia pada hari Rabu. Pasangan mata uang ini turun seiring melemahnya Dolar AS (USD) di tengah meningkatnya optimisme bahwa Washington dapat mencapai kesepakatan dengan Iran
مزید پڑھیں Previous

S&P Global Services PMI Russia April Meningkat ke 49.7 dari Sebelumnya 49.5

S&P Global Services PMI Russia April Meningkat ke 49.7 dari Sebelumnya 49.5
مزید پڑھیں Next