USD/IDR: Rupiah Melemah ke Rp17.715 saat Dolar Bertahan di Atas 99, Minyak Turun

  • Kurs Rupiah melemah 20 poin ke Rp17.715 per Dolar AS pada Kamis, sementara JISDOR naik ke Rp17.762.
  • Dolar AS bertahan di atas 99 setelah PCE AS menunjukkan data utama inflasi sedikit lebih tinggi dari prakiraan.
  • Harga minyak melanjutkan penurunan, membatasi tekanan terhadap Rupiah menjelang pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada Jumat.

Rupiah Indonesia (IDR) menghentikan penguatan kemarin dan melemah tipis terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.715, naik 20 poin dari Rp17.695 pada Rabu. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) melemah lebih dalam ke Rp17.762 dari Rp17.717. Rupiah sempat tertekan mendekati Rp17.800 pada awal perdagangan ketika Dolar AS bertahan di atas level 99 setelah data inflasi AS, tetapi mampu memangkas sebagian besar pelemahannya menjelang penutupan ketika harga minyak melanjutkan penurunan.

Dolar AS Bertahan di Atas 99 setelah Data PCE

Indeks Dolar AS (DXY) berusaha mempertahankan pemulihannya pada Kamis, setelah data ekonomi AS menjaga ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat. DXY berada di sekitar 99,20 pada sesi Eropa, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik tipis ke sekitar 4,67%. Kondisi tersebut masih menjadi tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, meski penurunan harga minyak membantu membatasi pelemahan mata uang Garuda.

Data Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) menunjukkan Indeks Harga Belanja Konsumsi Perorangan (Personal Consumption Expenditures/PCE) naik 0,2% secara bulanan dan 3,7% secara tahunan pada Juli. Angka tahunan tersebut sedikit lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, PCE inti, yang mengecualikan harga makanan dan energi, naik 0,2% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan, sesuai prakiraan. Pendapatan pribadi juga meningkat 0,4%, sedangkan belanja konsumen naik 0,2%.

Data AS lainnya turut menunjukkan perekonomian masih cukup bertahan. PDB kuartal kedua tumbuh 1,5% secara tahunan, tidak berubah dari estimasi sebelumnya, sementara pesanan barang tahan lama Juli naik 1,1%, lebih tinggi dari konsensus 0,7%. Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan beberapa indikator aktivitas yang solid membantu Dolar mempertahankan pijakannya, meski data tersebut belum mendorong kenaikan DXY secara agresif.

Penurunan Minyak Membatasi Tekanan terhadap Rupiah

Di sisi lain, harga minyak melanjutkan penurunan pada Kamis, menjadi faktor yang lebih positif bagi Rupiah mengingat Indonesia sensitif terhadap kenaikan biaya impor energi. Pada sesi Eropa, Brent turun ke US$87,23 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah ke US$81,55. Harga Brent berada di jalur penurunan empat hari berturut-turut ketika pasar melihat peluang meredanya gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Tekanan terhadap minyak muncul setelah perkembangan diplomatik terkait Iran, Oman dan Qatar meningkatkan harapan adanya kemajuan dalam pengelolaan kembali arus pelayaran melalui Selat Hormuz. Iran dan Oman sebelumnya mencapai kesepakatan terkait pengelolaan dan pembagian pendapatan dari selat tersebut, sementara lalu lintas kapal komoditas mulai meningkat meski masih berada di bawah rata-rata sepuluh hari. Kondisi itu menurunkan sebagian premi risiko energi, walaupun arus minyak melalui kawasan tersebut belum kembali ke tingkat sebelum konflik.

Demonstrasi DPR dan Pidato Warsh Menjadi Perhatian

Dari dalam negeri, pasar turut mencermati aksi demonstrasi di kawasan DPR RI pada Kamis. Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) membawa dua tuntutan utama, yaitu pengesahan RUU Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi koruptor. Pimpinan DPR menerima perwakilan AMPB untuk audiensi pada siang hari, sementara pemerintah dan aparat menyatakan pengamanan diarahkan agar penyampaian aspirasi berlangsung tertib. Menko Polkam Djamari Chaniago mengatakan, “Kita kawal supaya aspirasi ini tersalurkan dengan baik.”

Perhatian pasar berikutnya akan beralih ke pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada Jumat. Investor mencari petunjuk mengenai arah suku bunga setelah PCE tetap jauh di atas target 2% The Fed dan pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Nada Warsh berpotensi menentukan apakah Dolar dapat melanjutkan pemulihannya di atas level 99 atau kehilangan momentum, yang selanjutnya dapat memengaruhi arah USD/IDR menjelang akhir pekan.

Indikator Ekonomi

Pidato Ketua The Fed Warsh

Kevin Warsh menjabat sebagai ketua Dewan Gubernur Federal Reserve pada Mei 2026, untuk masa jabatan empat tahun yang berakhir pada tahun 2030. Masa jabatannya sebagai anggota Dewan Gubernur akan berakhir pada Mei 2040. Warsh, lahir di Albany (New York) pada 13 April 1970, adalah seorang ahli keuangan dan pengacara Amerika yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed dari tahun 2006 hingga 2011 dan sangat terlibat dalam respons bank sentral terhadap krisis keuangan.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Jum Agu 28, 2026 14.00

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: -

Sebelumnya: -

Sumber: Federal Reserve

Indeks Dolar Amerika Serikat mendapat dukungan karena data AS yang kuat memicu ekspektasi kenaikan suku bunga

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur nilai Dolar AS (USD) terhadap enam mata uang utama, tetap menguat untuk dua hari berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar 99,20 selama perdagangan sesi Eropa pada hari Kamis.
আরও পড়ুন Previous

Pound Inggris: Tetap berada di bawah tekanan di bawah resistance terhadap Euro – Societe Generale

Kenneth Broux dari Societe Generale dan rekan-rekannya mencatat bahwa EUR/GBP telah rebound tajam setelah membentuk low sementara di dekat 0,8450 pada Juli, tetapi pemulihannya terhenti di sekitar 0,8585.
আরও পড়ুন Next