USD/IDR: Rupiah Naik ke Rp17.650 setelah ADP AS Lemah, Minyak Tetap Jadi Risiko, Fokus ke PMI Jasa ISM AS

  • Kurs Rupiah ditutup di Rp17.650 per Dolar AS pada Kamis, menguat 100 poin dari Rp17.750 pada Rabu.
  • JISDOR Bank Indonesia menguat ke Rp17.689 dari Rp17.770, ketika Dolar AS dan imbal hasil Treasury turun setelah data tenaga kerja swasta AS lebih lemah dari prakiraan.
  • Harga minyak di sekitar US$95 masih membayangi Rupiah, sementara pasar menunggu klaim pengangguran, Jasa ISM, dan komentar The Fed malam ini.

Rupiah Indonesia (IDR) menguat terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Kamis, dengan pasangan mata uang USD/IDR ditutup di Rp17.650, turun 100 poin dari Rp17.750 pada Rabu. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) turut menguat ke Rp17.689 dari Rp17.770 sehari sebelumnya. Rupiah mendapat dukungan dari pelemahan Dolar AS dan imbal hasil Treasury setelah data ketenagakerjaan swasta AS mengecewakan, serta komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, harga minyak yang tetap tinggi dan tekanan terhadap neraca eksternal Indonesia masih menjadi risiko, ketika pasar menunggu data tenaga kerja dan jasa AS berikutnya untuk petunjuk arah kebijakan The Fed.

Dolar dan Imbal Hasil AS Turun setelah ADP

Dolar AS melemah pada Kamis, sementara imbal hasil Treasury AS 10-tahun turun kembali ke sekitar 4,79% setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Pergerakan tersebut mengikuti laporan ADP yang menunjukkan lapangan kerja sektor swasta AS hanya bertambah 38 ribu pada Agustus, di bawah prakiraan 47 ribu dan melambat dari 46 ribu pada Juli. Namun, Pesanan Pabrik AS naik 0,9% pada Juli, melampaui ekspektasi 0,6%, menunjukkan aktivitas ekonomi belum kehilangan momentum secara luas.

Presiden The Fed New York John Williams mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi lebih mencerminkan kekuatan ekonomi dan permintaan investasi daripada kekhawatiran terhadap inflasi yang tidak terkendali. Ia menilai tarif dan konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang menjaga inflasi di atas target, tetapi menegaskan bahwa membawa inflasi kembali ke 2% tetap menjadi “pekerjaan nomor satu” The Fed. Williams juga mengatakan bank sentral masih perlu mengumpulkan data sebelum pertemuan FOMC berikutnya.

Minyak Tetap Menjadi Risiko bagi Rupiah

Di sisi lain, harga minyak masih membatasi sentimen positif terhadap Rupiah. Brent bertahan di sekitar US$95 per barel pada Kamis setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah. Brent sempat ditutup di US$95,63 pada Rabu sebelum bergerak sedikit lebih rendah pada perdagangan hari ini.

Lloyd Chan dari MUFG tetap berhati-hati terhadap prospek Rupiah karena inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,19% secara tahunan pada Agustus dan pertumbuhan PDB masih berada di atas 5%. Neraca perdagangan Juli memang kembali mencatat surplus tipis US$0,12 miliar, tetapi masih berada jauh di bawah rata-rata 2025 karena tekanan impor minyak dan gas tetap tinggi. Chan menilai dukungan kebijakan BI dapat menopang Rupiah dalam jangka pendek, tetapi “harga Brent yang bertahan di atas US$90 per barel” akan meningkatkan tekanan terhadap posisi fiskal dan eksternal Indonesia.

BI Perkuat Pengawasan Valas, Pasar Menunggu ISM Jasa

Dari dalam negeri, Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bank sentral akan tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar dengan mengoptimalkan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri. BI juga akan memperkuat pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian Dolar AS yang tinggi melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta memperketat pelaporan lalu lintas devisa.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS, yang diprakirakan naik menjadi 205 ribu dari 203 ribu, serta PMI Jasa ISM, yang diprakirakan meningkat tipis menjadi 54,3 dari 54,1. Pasar juga menunggu komentar Gubernur The Fed Christopher Waller sebelum fokus beralih ke laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS pada Jumat, yang akan menjadi petunjuk penting berikutnya bagi ekspektasi kebijakan The Fed.

Indikator Ekonomi

PMI Jasa ISM

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa dari Institute for Supply Management (ISM), yang dirilis setiap bulan, merupakan indikator utama yang mengukur aktivitas bisnis di sektor jasa AS, yang merupakan sebagian besar perekonomian. Indikator ini diperoleh dari survei terhadap eksekutif pasokan di seluruh Amerika berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan di organisasi masing-masing. Respons survei mencerminkan perubahan, jika ada, pada bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan bahwa perekonomian jasa secara umum berkembang, yang merupakan tanda bullish bagi Dolar AS (USD). Angka di bawah 50 menandakan bahwa aktivitas sektor jasa secara umum menurun, yang dipandang sebagai bearish bagi USD.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Sep 03, 2026 14.00

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: 54.3

Sebelumnya: 54.1

Sumber: Institute for Supply Management

Indeks Manajer Pembelian (PMI) Jasa Institute for Supply Management (ISM) mengungkapkan kondisi sektor jasa AS saat ini, yang secara historis menjadi kontributor PDB yang besar. Data di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas ekonomi sektor jasa. Pembacaan yang lebih kuat dari perkiraan biasanya membantu USD mengumpulkan kekuatan melawan mata uang utama lainnya. Selain PMI utama, data Indeks Ketenagakerjaan dan Indeks Harga yang Dibayar juga diawasi ketat oleh investor karena memberikan wawasan yang berguna mengenai keadaan pasar tenaga kerja dan inflasi.

Pratinjau PMI Jasa ISM: Sektor jasa AS diprakirakan berekspansi pada bulan Agustus

Pada hari Kamis, kita akan mendapatkan pembacaan terbaru sektor jasa AS ketika Institute for Supply Management (ISM) merilis indikator Agustusnya. Konsensus mengarah pada perbaikan tipis menjadi 54,3 dari 54,1 pada Juli.
Baca lagi Previous

Dolar Australia: Pullback mereda dengan fokus kenaikan pada 0,7200 terhadap Dolar AS – UOB

Quek Ser Leang dan Lee Sue Ann dari United Overseas Bank (UOB) melaporkan bahwa AUD/USD turun ke 0,7122 sebelum rebound kuat ke 0,7176, sehingga aksi harga intraday berada dalam kisaran 0,7140–0,7180. Momentum turun memudar dan penembusan di atas 0,7190 akan mengonfirmasi bahwa 0,7120 berada di luar jangkauan.
Baca lagi Next