USD/IDR: Rupiah Pulih Tipis ke Rp17.730, Penurunan Minyak Redakan Tekanan

  • Kurs Rupiah menguat tipis ke Rp17.730 per Dolar AS pada Jumat dari Rp17.735 pada Kamis, sementara JISDOR turun ke Rp17.745 dari Rp17.753.
  • Menkeu RI Suahasil Nazara mengatakan arus modal ke Indonesia mulai pulih, tetapi kenaikan suku bunga The Fed tetap menjadi risiko bagi pasar keuangan domestik.
  • Brent turun hampir 2% ke sekitar US$102,90 per barel dan DXY melemah tipis ke 100,35, mengurangi sebagian tekanan eksternal terhadap Rupiah.

Rupiah Indonesia (IDR) menutup perdagangan Jumat dengan penguatan tipis terhadap Dolar AS (USD), membawa pasangan mata uang USD/IDR turun ke Rp17.730 dari Rp17.735 pada Kamis. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia (BI) turut turun menjadi Rp17.745 dari Rp17.753. Pelemahan harga minyak dan sedikit koreksi Dolar AS memberi ruang bagi Rupiah untuk pulih setelah tekanan pasca-kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), sementara dari dalam negeri pasar mendapat perkembangan baru dari arus modal dan kondisi fiskal yang disampaikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam APBN KiTa September 2026.

Meski menguat pada sesi terakhir pekan ini, Rupiah masih melemah sekitar 0,82% secara mingguan dari penutupan Rp17.585 pada Jumat pekan lalu. Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan yang terbentuk menjelang hingga setelah keputusan The Fed, yang pada Rabu menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%.

Suahasil Soroti Arus Modal dan Dampak Pelemahan Rupiah

Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan arus modal asing ke Indonesia mulai pulih, dengan akumulasi inflow bersih mencapai Rp141,6 triliun sepanjang 2026 hingga 11 September. Arus masuk terutama tercatat pada SRBI sebesar Rp171,6 triliun, sementara pasar saham masih membukukan outflow Rp70,7 triliun.

Suahasil juga secara langsung menyoroti dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap Indonesia. Menurutnya, kenaikan Fed Funds Rate akan memengaruhi pasar domestik dan pengelolaan ekonomi makro diarahkan untuk meminimalkan dampak negatif tersebut. Dalam paparan yang sama, ia mencatat rata-rata nilai tukar Rupiah sepanjang tahun berada di Rp17.415 per Dolar AS, lebih lemah dibandingkan asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500, sehingga pergerakan kurs turut memengaruhi penerimaan, belanja, dan pembiayaan negara.

Realisasi APBN hingga Agustus mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB. Suahasil mengatakan proyeksi dalam laporan semester masih mengarah pada defisit sekitar 2,85% PDB hingga akhir tahun. Angka tersebut merupakan proyeksi yang sebelumnya telah disampaikan dalam laporan semester, bukan revisi baru pada konferensi pers Jumat.

Minyak Turun, Tekanan Eksternal Sedikit Mereda

Harga minyak melanjutkan penurunannya selama hari ketiga pada Jumat. Brent turun hampir 2% ke US$102,9 per barel, setelah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan Arab Saudi mulai mereda. Penurunan harga minyak penting bagi Rupiah karena mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan beban impor energi Indonesia, meski Brent masih bertahan di atas US$100 per barel.

Pada saat yang sama, Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0,1% ke 100,35 setelah sempat mendapat dorongan dari keputusan The Fed. Namun, tekanan dari kebijakan moneter AS belum sepenuhnya hilang. Fed Funds futures menunjukkan peluang sekitar 53% untuk kenaikan suku bunga 25 bp pada pertemuan berikutnya, meningkat dari 27,2% sepekan sebelumnya. Sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed juga memproyeksikan setidaknya satu kenaikan tambahan tahun ini, sehingga prospek suku bunga AS tetap menjadi faktor pembatas bagi mata uang negara berkembang.

USD/IDR Kembali di Atas MA100

Dari sisi teknis, grafik harian menunjukkan USD/IDR pulih cukup cepat dari area Rp17.500 dan kini kembali bergerak di atas MA 100 periode di sekitar Rp17.687 serta garis tengah Bollinger Band di sekitar Rp17.674. Pada perdagangan ICE, pasangan mata uang tersebut bergerak di sekitar Rp17.735. Relative Strength Index (RSI) naik ke 51,54, kembali melewati garis tengah 50, menunjukkan momentum USD/IDR membaik tetapi belum memasuki area jenuh beli.

Di sisi atas, area yang membatasi pergerakan akhir Agustus hingga awal September di Rp17.770 menjadi resistance terdekat. Penembusan level tersebut dapat membuka jalan menuju batas atas Bollinger Band di sekitar Rp17.815. Sebaliknya, area Rp17.687–Rp17.674 menjadi support awal; jika USD/IDR kembali turun di bawah zona tersebut, pasangan mata uang ini berpeluang menguji level angka bulat Rp17.600, diikuti Rp17.500 dan terendah 12 Mei di Rp17.410. Dengan posisi harga sekarang, pergerakan jangka pendek masih berada di antara pemulihan momentum USD dan upaya Rupiah mempertahankan penguatan Jumat.

Grafik Harian USD/IDR
Grafik Harian USD/IDR

Euro: ECB yang Hawkish Memberikan Dukungan Terbatas terhadap Dolar AS - ING

Francesco Pesole dari ING menyoroti bahwa pernyataan terbaru Bank Sentral Eropa tetap secara umum hawkish, dengan sedikit penolakan dari kubu dovish.
Leer más Previous

Investasi Asing (Thn Berjalan) (Thn/Thn) Cina Agustus Naik dari Sebelumnya -6.2% ke -5.3%

Leer más Next